Minggu, 30 November 2014

NADIR TERENDAH



Di ujung rindu ada tangis yang berlindung di balik senyum
Kau telah mengajakku ke puncak bukit, ke puncak gunung, ke bintang-bintang
Ajariku berbaring walau semak begitu tinggi dimata mengusik telinga

Hembusan angin membelai lembut
Keringat juga ingin berbaring di nadir terendah
Helaan nafas panjang saat semua hening
Saat ku terbangun diantara semak ini
Ternyata kau telah pergi

Sesak di ujung dada
Ingin begitu lantang ku berteriak
Saat ku menggali dalam diri

Rumput tersenyum dalam sesalku
Air tersenyum dalam rapuhku
Angin tersenyum dalam dukaku

Mereka mendengar
Setiap derap langkah waktu berisikan perjuangan
Semudah itukah kau sudahi semua ini

Beriring senja yang beranjak pulang
Terdengar nada indah
Diantara dawai gitar yang saling menyapa
Gerai hujan tak henti mengetuk relung hati
Yang telah tertidur begitu lama

Menangisi kisah itu bercanda
Senyum bintang yang begitu pekat malam ini
Terlalu indah jika dihiasi air mata

Ketika kau kunci rapat hatimu, sangat rapat hingga tak berjarak
Namun rindu yang kan membukanya
Walau tersimpan dan dibingkai amarah
Hingga sejengkal surya yang tersisa

Sekuat apapun kau menolak
Hingga meledak bom waktu di punggungnya
Tak dapatkah kau menentang takdir

Jodoh pasti bertemu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar