Selasa, 17 Maret 2015

ARTI HIDUPKU

ARTI HIDUPKU
Karya Dasta Hariansyah

Aku berdiri dalam kejamnya dunia
Berdiri tegak walaupun kadang kakipun tak mampu lagi menopang
Tersenyum dalam pahitnya cobaan
Walau tangis kadang tak mampu lagi ku tutupi

Aku bagaikan angin
Tak terlihat namun dapat dirasakan

Aku bertahan dalam caci maki kehidupan
Saat dimana aku berusaha tegar
Namun tak dapat ku pungkiri

Semua begitu menyakitkan
Aku tlah berusaha untuk mengerti
Inilah kehidupanku tak peduli betapa terpuruknya aku
Betapa hancurnya relung batinku

Caci maki itu terdengar begitu tak berarti
Namun begitu membekas dihati
Kadang keadaan membuatku lelah
Membuatku tak mampu bangkit sendiri

Namun aku tau
Kelak kebahiagaan akan datang menjemputku

Menghantarkanku dalam kebahagiaan duniawi yang tak kan pernah kutahu

HUJAN

Karya Dasta Hariansyah

Hujan itu kini tlah hadir diantara sela jemariku
Tak henti
Bahkan mereka bertambah
Terus bertambah semakin banyak

Rasa dingin pula yang kembali
Terus mengerus kehangatanku malam ini
Angin yang meraung
Berdampingan dengan petir
Menambah lagi ketakutanku

Mata ini tlah begitu perih
Namun hujan tak perduli

Egoku mungkin tlah tertidur
Ditemani rasa hipotermia
Hatiku bergejolak, meminta hujan berhenti

Tapi aku sadar
Itu bukanlah kuasaku

Perjalanan singkat namun terasa begitu panjang
Kini, ku tlah sampai dititik nadir
Handuk mendekap hangat
Berlindunglah para jemari

Yang tlah menyerah akan rintikan hujan 

LINGKARAN RASA

LINGKARAN RASA
Karya Dasta Hariasnsyah

Terbujur kaku diantara nyanyian alam
Terus menggema bagaikan badai di tengan gurun
Namun mengalun begitu indah

Seindah hati
Setulus jiwa

Memulai gerakan namun kembali terbujur kaku

Perlahan mencoba bangkit
Membangunkan suasana ditengah mimpi buruk
Gemuruh angin dan hujan
Hanya membawa sepucuk surat yang kelam

Beriring senyuman
Mereka mengantarkan mentari kembali keperaduannya
Seakan malam tak kan berakhir

Bermain dibawah putri malam
Mencoba memanggil jiwa asrimu
Menembus 5 benua
Dengan warna-warni dunia

Mengitari lingkaran rasa

Berbekal semangat yang tak ada habisnya

KEPOLOSAN MENTARI PAGI

KEPOLOSAN MENTARI PAGI
Karya Dasta Hariansyah

Duduk tersandar aku dikelas ini
Tanpa suara, hening dan sangat hening
Namun fikiran mereka terus mencari

Hanya detak jarum jam
Hanya kicauan burung
Dan riuh rendah knalpotkendaraan
Mengisi suara hening di dalam kelas

Betapa hijau mereka
Bak mentari pagi yang menyongsong diufuk timur
Dengan wajah polos
Mereka sanggup menjaga kebenaran

Sekilas ku lihat diluar sana
Hijaunya dedaunan menyeruak sekalia alam
Mereka tak berbohong dengan kebenaran
Bahwa hijau tetaplah hijau


Karna sesungguhnya kejujuran adalah perhiasanyang lebih berharga dari pada berlian

KESENDIRIANKU

KESENDIRIANKU
Karya Dasta Hariansyah

Terasa lelah
Saat ku belajar melangkah tanpamu
Tertatih dengan segala rasa
Diantara puing-puing kenangan

Namamu masih tersimpan rapi
Pada sudut hati yang terdalam

Reruntuhan kenangan begitu banyak menimpaku
Aku sulit terbangun
Hanya tertegun dalam kesendirianku

Aku mungkin dikutuk kesepian
Cinta memalingkan wajahku yang masai
Dan langit meludahiku dalam hujan

Aku tak akan bersedih
Walaupun sepi menjarahku

Andaipun air mata ini terjatuh
Semoga tetesannya menjadi do’a untukmu
Aku berharap malaikat datang memenuhi do’aku
Dengan lidahnya yang hangat
Membuka pintu bagi setiap kesepian yang menjeratku

Biarkan aku disini melangkah
Pada beban tanya dipundakku

Hingga beban itu meledak
Bagai waktu yang membengkak ditubuhku
Ditubuhku masa lalu menyusun kisahku

Menjemputmu dalam ruang rinduku

SEBUAH NAMA

SEBUAH NAMA
Karya Dasta Hariansyah

Sinar sang fajar menyingsing
menerobos dinding yang begitu usang di pagi hari
Bagaikan pisau menyayat dua bola mata
Akupunterbangun dari malam yang menjagaku

Saat ku membuka mata
Terselip sebuah nama
Termenung berfikir dan terbayang

Nada cinta mengelayut
Seiring runtuhnya jiwa
di lorong-lorong yang bisu

Kini…
Nama itu tlah bersama orang lain
Dan aku tak tahu
Apakah rasa itu masih terjaga di hatinya

Sepi dalam cinta

Mungkin, karena cinta dilahirkan dari rahim sunyi
Maka aku akan dipulangkan padanya
Sebab tubuh tlah menemukan jodohnya sendiri
Menggali kenangannya sendiri

Ku coba bangkit
Namun begitu perih ketika hati terluka
Hanya menunggu waktu dan kenangan
Meleleh dipunggungku

Hingga putri malam duduk di singgasana menggantikan mentari
Nama itu akan selalu ada
Nama itu akan tetap ada dihatiku

Mencoba menghilang dalam kenyataan perasaan
Untuk tak lagi terbuai

Berharap kesepian jatuh
Bagai tahun-tahun yang lepas dari ingatan
Sepi menjadi tugu
Anak kemari sore yang kehilangan masa lalu

Sebuah nama yang pergi dari rasaku

Apa Yang Harus Kami Lakukan

Dalam kata takkan dapat terkira

Semua berubah sangat berbeda
Mungkinkah kembali zaman kegelapan itu

Melihat rakyat-rakyat menderita
Aku bingung harus bagaimana lagi

Kelaparan tidur dipinggiran
 Berselimutkan dinginnya angin malam
Dihamparan bumi yang beratapkan langitmu

Ya Rasulullah…
Apa yang harus dilakukan para pemimpin
Bukankah seharusnya ia
Membela yang lemah dan membantu yang miskin
Namun pemimpin seperti itu
Bagaikan jarum di tumpukan jerami

Ya Rasulullah…
Apa yang harus dilakukan para ulama
Bukankah seharusnya ia
Memberikan contoh yang baik dan mendukung para pemimpin
Tapi ulama itu sudah menghilang entah kemana

Apa yang harus kami lakukan ya Rasulullah
Siapa lagi yang harus kami pilih jadi pemimpin
Siapa lagi yang harus kami dengarkan fatwa-fatwanya

Ya Allah…
Tunjukanlah jalan lurusmu
Jalan orang-orang yang engkau berkahi